Bupati Mentawai : Enam Korban Selamat Boat Terbalik di Selat Sipora, Berenang Ke Daratan Selama 6 Jam

Mentawai, Kabarkita.net – Kecelakaan laut yang terjadi di Selat Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai membuat sebuah boat berpenumpang 18 orang terbalik pada Senin (14/7/2025) siang. Informasi sampai Selasa (15/7,2025) pagi, sebanyak 7 orang berhasil selamat.

Namun ada cerita heroic dibalik perjuangan para korban selamat ini. Sebanyak 6 orang mengarungi lautan lepas yang dalam kondisi badai untuk mencapai daratan selama 6 jam. Mereka hanya bermodal kompas dan tetap sadar agar terus kompak untuk terus bersama.

Keenam korban selamat tersebut adalah

  • Peter Son (Operator Boat)
  • Marlon Saragi (DPKP)
  • Nensyah Niningtyas (DPKP)
  • Emilia Contesa (DPKP)
  • Marhan Saleleubaja (DPKP)
  • Gunawan Toroi (Kontraktor)
  • Operator Boat yang masih belum identitasnya

Keenam korban selamat ini mengarungi lautan sepanjang belasan mil tanpa ada panduan yang pasti. Mereka hanya bermodal kompas yang dipegang oleh salah seorang operator boat dan mengkomandoi mereka agar terus bersama dan ikut satu arah.

Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana mengatakan boat yang terbalik di Selat Siporan ini tengah dalam perjalan dari Sikakap, Pulau Pagai Utara menuju Tuapejat. Kapal tersebut membawa rombongan ASN dari sejumlah dinas di lingkungan Pemkab Mentawai, Seorang ANggota DPRD beserta 2 anaknya, serta operartor kapal dan kerabat lainnya.

Boat berangkat pukul 07.30 WIB yang sempat berpapasan dengan boat rombongan Bupati di sekitar dusun Mangau’ngau, Desa Matobe, Kecamatan Sikakap.

“Saat kami berpapasan, mereka masih dalam keadaan baik. Tapi cuaca memang sudah gelap sejak pagi. Langit mendung, hujan dan gelombang sudah mulai tinggi,” ucap Rinto Wardana, Senin Malam.

Rombongan Bupati tiba terlebih dahulu di dusun Sao, Desa Bosua, Kecamatan Sipora Selatan. Mereka sempat menunggu boat tersebut selama hamper satu jam. Namun tak kunjung datang. Hingga akhirnya diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke dermaga Sioban dan melanjutkan perjalanan via darata menuju Tuapejat.

Dalam perjalanan itulah Rinto menerima kabar bahwa rombongan Boat tersebut mengalami kecelakaan laut. Seorang kepala dusun memberi kabar, da nada enam orang yang selamat setelah berenang ke pantai kawasan yang dikenal sebagai Perairan Sawang, antara Pagai Utara dan Sipora.

Menurut keterangan dari salah satu korban selamat, saat boat mulai bermasalah. Seluruh penumpang kapal sempat berdiskusi. Sebagian memutuskan untuk bertahan di atas kapal dan sebagian lagi memilih berenang untuk mencari bantuan.

“Mereka membagi tugas. Beberapa bertahan di atas boat, sementara yang lain berenang. Dua operator kapal memilih untuk berenang karena mereka membawa kompas untuk menentukan arah,” kata Rinto

Situasi saat itu sangat genting. Laut gelap, ombak tinggi dan daratan tidak tampak sama sekali. Dengan hanya mengandalkan kompas dan semangat bertahan hidup, para penumpang berenang secara perlahan selama 6 jam untuk mencapai daratan. Mereka sempat terpisah, namun tetap berusaha berenang dalam satu arah.

Sekitar pukul 17.30 WIB, para korban berhasil mencapai bibir pantai dan langsung mencari pertolongan warga setempat.

“Mereka berenang dari lautan lepas dan sampai ke daratan tanpa pelampung. Beberapa diantara mereka sudah lemas saat ditemukan, tapi selamat,” kata Rinto lagi.

Sampai berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian di sekitar lokasi terakhir kapal, yakni pada posisi koordinat 2°27’20.26″S 99°56’23.32″E, atau sekitar 32,7 nautical mile dari Dermaga Tuapejat, dengan heading 140°.

Sebanyak 11 penumpang masih belum ditemukan, diantaranya seorang anggota DPRD Mentawai bernama Isar beserta dua anaknya dan sejumlah ASN dari dinas PUPR, BKPSDM dan DPKP.

Bupati Rinto menyatakan pihaknya akan memantau dan mendukung penuh seluruh proses pencarian, serta memberikan pendampingan kepada keluarga korban yang belum ditemukan. (*)